9 Dec 2018

Anjuran Menikah Untuk Para Pemuda

قال  رسول الله صلى الله عليه وسلم ( يا معشر الشباب من استطاع منكم الباءة فليتزوج فإنه أغض للبصر وأحصن للفرج ومن لم يستطع فعليه بالصوم فإنه له وجاء )

Hadis ini diriwayatkan dari Aimmat al-Hadits ( Imam Bukhari dalam Sohihnya, Imam Muslim dalam Sohihnya, Imam Abu Daud, Attirmidji, Annasa'i, Ibnu majah dalam Sunannya, Imam Ahmad dalam Musnadnya, Addarimi dalam Sunannya, Ibnu Hibban dalam Sohehnya, Attayalisi dalam Musnadnya, Attabhrani dalam tiga Mu'jamnya; al-Kabir, al-Ausath, Assaghir, Abu ya'la dalam Musnadnya, Sai'd ibnu Mansur dalam Sunannya, Abdur Rajaq dalam Musannafnya, Ibnu Abi Syaibah dalam Musannafnya, Albaihaqi dalam Sunnan al-Kubranya).

Siapakah perawi hadis ini ?

Hadis tersebut diriwayatkan oleh Alqomah ibnu Qois beliau adalah seorang diantara pembesar tabi’in (orang yang beriman dan melihat sahabat tapi tidak melihat Rasulullah Saw.) beliau lahir disaat Rasulullah Saw masih hidup tapi belum  sempat melihat Rasulullah Saw., beliau banyak meriwayatkan hadis dari Umar ibnu Khattab r.a, Usman r.a, Ali r.a, Hujaifah r.a, Abu Darda r.a, dan Abdullah ibn Mas'ud. Imam Ali ibnu Almadini berkata : orang yang paling tahu tentang Abdulah ibnu Mas'ud adalah Alqomah, Aswad, Ubaidah, dan haris. Dan Ibnu Mas'ud pun pernah berkata : tidak pernah aku membaca sesuatu dan mengajarkanya kecuali telah diketahui Alqomah dan Alqomah pun membacanya serta mengetahuinya. Diantara orang yang mengambil hadis darinya adalah Annukhi, Asya'bi, Salmah ibn Kuhail dan ibnu Sirin. Beliau meninggal setelah 60 th H. Ada yang mengatakan setelah 70 th H di Kufah. (baca maraji : Ruwât at-Tahjîb, al-Ishâbah fî Tamyij ash-Shahâbah, Tahjîb al-Kamâl, Tahjîb at-Tahjîb, Taqrîb at-Tahjîb, Ta'jîl al-Manfa’ah, Lisân al-Mijân, al-Kâsyif, at-Târîkh al-Kabîr, ats-Tsiqât karangan ibnu Hibban Tarikh bagdaad, ats-Tsiqah milik Alijli, al-Jarh wa at-Ta'dîl, at-Ta'dîl wa at-Tajrîh, al-Kâmil fî adh-Dhu’afâ’, Du’afâ’ aluqaili).

Baca selengkapnya

7 Dec 2018

Kita Azhariyyin, Kita Bersaudara

Kita Azhariyyin, Kita Bersaudara

Kita Azhariyyin, Kita Bersaudara
Oleh: M. Zainul Majdi

Kita, azhariyyin, adalah saudara. Kita belajar dari sumber ilmu yang sama. Kita juga belajar saling mencintai dan menyayangi dari para guru yang sama. Ilmu, adab dan akhlak kita mata airnya sama. Semoga kita selalu mampu menampung kejernihan itu.
Karena bersaudara, kita harus saling menjaga dan membela, bukan saling mengumpat. Kalau ada perbedaan marilah saling bernasehat dengan baik.
Salah satu cara menjaga adalah berusaha menghindarkan sikap dan perilaku yang memojokkan sesama azhary di ruang publik. Itu sebabnya, saat ada deklarasi terkait dukungan kepada Capres tertentu, saya memutuskan OIAAI tidak berkomentar apapun kepada media walaupun banyak yang bertanya. Saya tidak mau menyempitkan ruang bagi sesama Azhary untuk berkiprah di tengah umat. Saya cukupkan tanggapan sekedarnya di grup internal kita ini. Sejujurnya, saya mendoakan semua azhary yang sedang berikhtiar dalam politik, karena bagi kita politik adalah instrumen dakwah.
Mendukung capres tertentu adalah hak masing-masing. Saya yakin setiap dukungan adalah hasil penalaran imani akhlaqi yang cukup. Mudah-mudahan tercatat sebagai amal shalih. Namun jangan sampai jatuh pada ta'assub buta, mendukung sambil tak putus menghujat calon lain dan saudara sesama azhary yang mendukung calon itu.
Ini bukan "perang badar" apalagi "armageddon". Ini "fastabiqul khairaat". Berfastabiqul  khairaat artinya mengasumsikan setiap pihak memiliki "khairat", kebaikan masing-masing, yang dikontestasikan. Itulah visi misi yang bisa kita uji dengan perangkat obyektivitas dan subyektivitas kita. Adapun kekurangan masing-masing calon pasti ada, karena mereka bukan ideal apalagi maksum tak punya salah dan dosa. Kitapun belum tentu lebih baik dari mereka.
Maka dalam bab siyasah, porosnya adalah "al-maslahah", kemaslahatan umum,  bukan semata kelebihan atau kekurangan pribadi sang pemimpin atau calon pemimpin. Bahkan ekstremnya, bisa saja,  seseorang fasik secara individual namun dia punya kapasitas menghadirkan kemaslahatan umum. Maka dia valid, sah dan bisa menjadi pemimpin. Sejarah Islam menjadi saksi hal itu.
Jangankan kepemimpinan sosial, berjamaah shalat pun dimungkinkan menjadi makmum seorang imam yang fasik. Dengan satu catatan, kesepakatan para ulama, bahwa yang disebut fasik adalah seseorang yang nyata-nyata melakukan perbuatan dosa besar, bukan kefasikan berdasar dugaan atau tudingan apalagi hoaks dan fitnah.
Kedua calon presiden kita telah dan sedang menjadi korban hoaks dan fitnah. 
Kita tidak boleh menjadi bagian dari penyebar hoaks dan fitnah. Yang sangat saya sayangkan, di beberapa group alumni yang saya ikuti, kita para azhary ternyata tak kalah semangat menyebarkan berita bohong yang tak jarang menyangkut marwah seseorang. Hanya karena kita tidak suka dengan orang itu, seorang calon presiden. Bahkan fitnah terhadap sesama azhary pun kita ikut sebarkan seperti yang saya alami saat sebuah majalah memfitnah saya. Dimana ukhuwwah, muru'ah dan tabayyun?

Ittaqulloh yaa Ikhwah. Bagaimana wajah kita berjumpa dengan ALLOH kelak, kalau ternyata urusan politik ini merusak amal-amal kita. Hangus terbakar gegara hawa nafsu dukung-mendukung. Betapa meruginya kita. Marilah kita selalu siapkan ruang di hati kita untuk menerima perbedaan saudara kita.
Dunia ini kecil, perjumpaan kita akan intens saat ini dan kelak, karena kita semua berada di ruang yang sama yaitu perkhidmatan dakwah. Jangan sampai kelak kita malu hati, salah tingkah, kikuk saat jumpa, enggan silaturahim karena residu perbuatan kita di hari-hari ini. Ukhuwah azhariyah kita terlalu mahal untuk rusak karena politik. Khosaroh yaa Ikhwah, khosaroh...
Wallohu a'lam bisshawab.
Baca selengkapnya

Al-Fatihah vs Al-Fateka, Perlukah Dipertentangkan?

Al-Fatihah vs Al-Fateka, Perlukah Dipertentangkan?
Oleh: Muchlis Hanafi

Al-Qur`an bukan kalam biasa. Ia adalah kalam Tuhan yang harus dimuliakan. Dalam rangka memuliakan Al-Qur`an, para ulama menekankan agar dalam melantunkan bacaan, unsur _fashâhah_ dan _makhraj_ diperhatikan. Untuk itu, ilmu tajwid, yaitu ilmu untuk memperbagus bacaan Al-Qur`an diciptakan. Ratusan, bahkan ribuan kitab tajwid ditulis.

Bahkan, sedemikian pentingnya ilmu tajwid, ulama Al-Qur`an, Ibnu al-Jazari (w.833 H), menyatakan, _’berpedoman dengan ilmu tajwid adalah keharusan. Siapa yang membaca Al-Qur`an tidak dengan tajwid yang benar maka ia berdosa’._ Ini sejalan dengan perintah Al-Qur`an agar membacanya dengan _tartîl_ (QS. Al-Muzzammil/73: 4), yakni membacanya secara perlahan, sehingga huruf-hurufnya keluar dengan jelas sesuai bunyi pelafalannya.
Siapa yang bisa seperti itu terbilang sebagai _al-mâhir bil qur`an_ yang dalam hadis dikatakan ‘akan bersama para malaikat yang mulia’. Bagaimana dengan yang tidak membaca atau melafalkannya dengan baik? Lanjutan hadis menyatakan, “yang membacanya dengan terbata-bata, penuh kesulitan, akan mendapatkan dua pahala; dari bacaan dan usahanya.
Setiap orang punya kondisi berbeda. Jangankan non-Arab yang bukan penutur bahasa Arab, bangsa Arab sendiri punya dialek dan logat bermacam-macam. Bukan hanya saat ini, tetapi saat Al-Qur`an diturunkan, bahkan di hadapan Rasulullah.
Dalam sejarah bahasa Arab klasik, menurut Teimour Pasya (w.1930 M), ditemukan tidak kurang dari dua puluh dialek. Bahkan pernyataan Nabi Saw Al-Qur`an turun dalam _sab`at ahruf_ salah satunya untuk mengakomodir dialek suku-suku bangsa Arab saat Al-Qur`an diturunkan. Di antara suku Arab yang terbesar dan paling berpengaruh adalah Quraisy, Tamim, Asad, Hudzail, Aqil, Thay dan lainnya.
Perbedaan dialek itu bahkan sampai pada tingkat merubah bunyi huruf. Perbedaan itu salah satunya dipengaruhi lingkungan. Dalam sosio-linguistik, suku Tamim, misalnya, simbol kehidupan masyarakat badui pedalaman, sedangkan masyarakat Arab perkotaan ( _hadhariy_ ) diwakili oleh suku Qurasiy dan yang ada di Hijaz.
Dalam melafalkan huruf, suku quraisy dikenal jelas dan cermat. Berbeda dengan Hudzail yang suka berbicara cepat, sehingga bunyi huruf satu dengan lainnya saling bertumpuk. Ini bisa ditelusuri dalam bacaan versi Abu Amr Ibn al-Ala (w.154 H), salah satu dari tujuh bacaan ( _qira`at sab`ah_ ) yang mutawatir. Di kalangan suku Tamim, Asad dan Qays dikenal fenomena bunyi yang disebut _’an`anah_ , yaitu membunyikan huruf hamzah berharakat fathah dengan `ain. Huruf hamzah (أَ) berubah menjadi `ain (ع). Di kalangan suku Hudzail, huruf ha (ح) dibunyikan dengan `ain (ع). Pengaruh dialek Hudzail diakomodir oleh Ibnu Mas`ud, salah seorang Sahabat Nabi, yang membaca ayat _hattâ hîn_ (QS. Yusuf: 12/35) dengan _ ‘attâ ‘în_. Fenomena ini disebut _fahfahah’_. Ada lagi fenomena _al-watm_ yang mengganti bunyi huruf ‘sîn’ dengan ‘ta’. Kata _al-nâs_ dibunyikan menjadi _al-nât_.
Rasulullah dalam beberapa kesempatan mengakomodir perbedaan dialek tersebut. Dalam suatu riwayat, beliau melafalkan huruf `ain berharakat ‘sukun’ (عْ) yang berdampingan dengan huruf ‘tha’ menjadi ‘nûn’. Dalam doa popular, _”Limâ a`thayta”_ menjadi _”limâ anthayta”_” dan _”walâ mu`thiya”_ menjadi _”walâ munthiya”_”. Ulama besar, al-Hasan al-Bashri (w.21 H), diriwayatkan membaca QS. al-Kautsar dengan lafal _”innâ anthaynâkal kawtsar”_. Fenomena ini disebut _al-istintha_ pada kabilah Sa`ad, Hudzail, Azd dan Qays. Dalam kesempatan lain, ‘alif-lam’ (الْ) pada awal kata dibunyikan dengan `am (ام). Ungkapan _”laysa minal birri al-shiyâm fi al-safar”_ (bukan hal yang baik berpuasa di perjalanan) berbunyi menjadi _”laysa min ambirr am shiyâm fi amsafar”_. Fenomena ini disebut _thamthamah_ atau _thamthamaniyah_ pada suku Thay, Azd dan Himyar di selatan jazirah Arab.
Demikian beberapa contoh dialek Arab yang dipengaruhi faktor sosial dan lingkungan. Simplifikasi bunyi ini bisa juga terjadi karena tempat keluar huruf (makhraj) berdekatan, seperti huruf _ha_ dari tengah kerongkongan ( _wasath al-halq_) dan _kaf_ dari ujung lidah bagian dalam setelah kerongkongan sedikit. Meski berbeda bunyi, ahli bahasa bersepakat itu hanya kebiasaan yang tidak memengaruhi makna. Apalagi bukan karena disengaja. Bukankah Tuhan tidak membebani hamba-Nya dengan sesuatu yang di luar kemampuannya? Kalau begitu, mengapa harus dipertentangkan. Demikian, _wallahua`lam_.
*Penulis adalah Direktur  Pusat Studi Al-Qur`an (PSQ) Jakarta dan Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur`an (LPMQ) Kementerian Agama RI
Baca selengkapnya

5 Sep 2018

3 Etika Yang Harus Dijaga Terhadap Pemimpin

Pemimpin adalah simbol persatuan dan kesatuan umat, karena itu kebaikan umat terlihat pada seorang pemimpin dalam memangku kebijakan dan maslahat umat. Umat pun berkewajiban menjaga etika dalam bermuamalah pada mereka.

Etika pertama yang harus dijaga adalah mendoakan para pemimpin. Salafus saleh menyadari kewajiban mereka kepada para penguasa, yang baik atau pun aniaya, yaitu mendoakan untuk kebaikan mereka dan agar tiap kebijakan yang akan mereka ambil sejalan dengan nilai agama serta kemuliaan umat. Adalah Fudhail Bin Iyadh seorang yang terkenal keras dan menjaga jarak dengan para penguasa, tapi dia memahami posisi mereka. Mereka adalah para pemimpin umat, di tangan  mereka lah urusan umat ini dapat terselesaikan. Fudhail pernah berkata, jika aku memiliki doa yang mustajab, ku kan berdoa untuk penguasa, karena baiknya mereka adalah kebaikan untuk umat dan negeri.
Meski demikian, ulama membedakan antara doa untuk pemimpin yang adil dan bijak dengan penguasa yang lalim dan semena-mena. Jika pemimpin yang adil didoakan dengan semua kebaikan, maka penguasa yang lalim didoakan agar mendapat hidayah dan setiap langkahnya selalu dibimbing dalam memimpin negeri.
Mendoakan para pemimpin memberikan teladan pada umat dan masyarakat secara umum untuk menghormati pemimpin mereka. Memposisikan mereka sesuai pada tempatnya sebagai simbol tertinggi Negara, dan selalu positif pada upaya yang tiada henti untuk perbaikan negeri.

Kedua, etika yang harus dijaga terhadap pemimpin adalah menghormatinya. Seorang muslim dituntut untuk menghormati saudara muslim lainya, karena itu menghormati pemimpin lebih utama dilakukan oleh setiap muslim. Pemimpin adalah khalifah Allah di muka bumi ini. Di tangan mereka tampuk kekuasaan dan urusan umat berada. Oleh karena itu seorang pemimpin harus diperlakukan secara khusus, dengan etika dan tatakrama tersendiri. 
Bentuk penghormatannya pun beragam, diantaranya memanggil dengan nama kehormatan. Untuk pemimpin wilayah desa dipanggil dengan pak kades, kecamatan dengan pak camat, hingga pemimpin tertinggi Negara yaitu presiden, raja, atau sultan sesuai dengan sistem yang berlaku di tiap negeri.
Sikap hormat pada pemimpin tidak bertentangan dengan sikap kritis terhadap langkah kebijakannya dalam memimpin. Karena sikap hormat adalah hak untuk setiap pemimpin dan sikap kritis adalah hak mereka yang dipimpin namun tetap santun dalam menyampaikan kritiknya.
Manakala umat menghormati pimpinannya saat itu wibawa sang pemimpin tetap terjaga dalam pandangan masyarakat umum, begitupun hubungan pemimpin dengan ulama akan terjaga dengan baik sehingga mereka mau menerima nasihat karena merasa dihormati.

Etika ketiga yang harus dijaga terhadap pemimpin adalah mematuhi dan tidak menentangnya. Hak seorang pemimpin adalah dipatuhi. Karena di tangan mereka lah maslahat umat berada. Tapi bukan patuh yang tiada pilih perintah meski dalam kemaksiatan. Karena tidak ada kewajiban patuh dalam maksiat. Namun ketika seorang penguasa berbuat dan memerintahkan pada kemaksiatan, bukan berarti harus dilawan dengan senjata. Imam Ahmad Bin Hambal, seoang ulama yang masyhur dengan kisah mihnah alQuran di zamannya, mengalami penyiksaan yang sangat keras dari penguasa hingga tak sadarkan diri. Namun begitu beliau berpesan agar umat mendengar dan taat kepada para  pemimpin dan amirul mu'minin, yang baik maupun pendurhaka, dan melarang menentang serta (keluar) memeranginya.
Baca selengkapnya

2 Sep 2018

Etika Mengikuti Pendapat Mazhab di Suatu Tempat


Berkata Ali bin Ja'far: telah mengabarkan kepada kami Isma'il ibnu Binti As Suddī, ia berkata:

Suatu saat aku hadir di Majlisnya Mālik (Ibnu Anas) -Rahimahullāh-, lalu beliau ditanya tentang suatu perkara, kemudian beliau menjawab dengan pendapatnya Zayd (Ibnu Tsābit) -Radhiyallāhu 'anhu-.

Aku pun berkata: Apa pendapatnya 'Ali dan Ibnu Mas'ūd -Radhiyallāhu 'anhumā- tentang perkara ini?

Kemudian beliau memberi isyarat kepada para penjaga untuk menangkap ku. Ketika mereka mendekat, maka aku pun lari, sampai mereka tak mampu mengejar ku.

Mereka berkata: Apa yg kami harus perbuat untuk buku-buku dan penanya?

Beliau pun menjawab: Datangkan dia tanpa kekarasan.

Lalu kemudian mereka datang kepadaku untuk membawaku kepadanya, dan aku pun ikut bersama mereka.

Lalu Mālik bertanya: Engkau datang darimana? 
Aku menjawab: Aku dari Kūfah.

Beliau kembali bertanya: Engkau tinggalkan dimana Adabmu?
Aku pun menjawab: Sesungguhnya aku ingin mudzakarah denganmu agar aku mendapatkan faedah.

Beliau berkata: Sesungguhnya tidak ada yg mengingkari kemulian dari 'Ali dan Abdullāh (Ibnu Mas'ūd) -Radhiyallāhu 'anhumā-, namun penduduk negri kami mengikuti pendapatnya Zayd bin Tsābit. Apabila engkau berada di antara suatu kaum, maka janganlah memulai kepada mereka dengan sesuatu yg mereka tidak ketahui, sehingga mereka pun membalasmu dengan sesuatu yg tidak engkau inginkan.

[Siyar A'lām An Nubalā' -Ad Dzahabiy-]


Baca selengkapnya

10 Doa dan Harapan Bersahaja sang Badui

10 Doa dan Harapan Bersahaja sang Badui

Ya Allah, Pencipta pepohonan dan buah-buahan,
Yang menciptakan matahari,
Luluskan untukku SEPULUH permintaan.
Tiada yang lain kuharapkan lagi.
Dengarkan, ya Tuhan, dan tuliskan sebagai suratan takdirku.

Pertama, aku memohon sebuah tenda yang besar dan teduh,
Yang terbuka sepanjang hari,
Yang didatangi orang-orang dengan senang hati.

Kedua, aku memohon seorang wanita untuk menjadi istriku,
Yang parasnya CANTIK dan prilakunya BAIK,
Yang dengan sigap memasak
Begitu melihat tamu datang

Ketiga, ya Tuhan, lindungi KEHORMATANKU dari aib.
Jangan biarkan oranglain menodai namaku.

Keempat, anugerahi aku kuda betina yang berlari lincah di bawah sinar matahari,
Dan di tanganku senjata yang tidak pernah luput dari sasaran.

Kelima, karuniakan kepadaku kawanan kambing dan domba yang melimpah,
Membuat sibuk para gembala;
Dan tamu-tamuku dapat makan daging hingga kenyang.

Keenam, karuniai aku unta-unta dengan ambing penuh susu
Aku pun dapat menawarkan kepada siapa saja yang lewat sini.

Ketujuh, berkahi aku kawan-kawan yang JUJUR dan BERANI,
Kelompok yang setia mendangpingiku
Menjaga keselamatan tanah wilayahku.

Kedelapan, izinkan aku berziarah ke Makkah
Mengunjungi KEKASIHKU, Muhammad Saw.

Kesembilan, setelah menjalani kehidupan yang panjang,
Tolonglah aku, ya Tuhan, menjawab MALAIKAT kematian,
Munkar maupun Nakir
Saat  mereka menyidik aku di dalam kubur.

Dan kesepuluh, selamatkan aku dari api neraka;
Izinkan aku tinggal di surga saja.

Dikutip dari Kisah-Kisah Fantastis dari Negeri 1001 Malam
Baca selengkapnya

16 Jul 2018

Mau Lanjut Program Master di Al Azhar University Cairo ? Begini Caranya !



Universitas Al-Azhar Program S2

1. Syarat-Syarat Pendaftaran

a.  Lulusan Al-Azhar
         Syarat-syarat yang diperlulkan oleh mahasiswa S1 lulusan al-Azhar adalah sebagai berikut:
1.  Ijazah Sementara;
2.   Transkrip nilai asli;
3.   Akte Kelahiran asli;
4.   Photo copy paspor;
5.   Pas photo sebanyak 7 lembar;
6.   Surat Permohonan untuk diterima masuk program S2;
7.   Mengisi formulir pendaftaran.



a.Lulusan Non Al-Azhar
Bagi mahasiswa lulusan non al-Azhar yang ingin melanjutkan studi program S2 ke universitas al-Azhar terlebih dahulu melakukan proses akreditasi ijazah S1 yang dimilikinya.

Bagi mahasiswa pemegang ijazah S1 fakultas Syariah dan Ushuluddin UIN/IAIN/STAIN secara internasional telah diakreditasikan oleh universitas al-Azhar sejak tahun akademik 2002/2003, jadi bagi pemegagang ijazah tersebut secara langsung dapat melakukan proses pendaftaran.

Catatan: Sejak tahun akademik 2005/2006, proses akreditasi ijazah dilakukan secara perorangan.

Adapun proses, tempat, waktu dan syarat akreditasi ijazah S1 sebagai berikut:

a.  Photo copy ijazah Aliyah (SMA/MAN dan yang sederajat)
b.  Ijazah asli S1 dan terjemahannya
c.  Trankrip nilai asli S1 dan terjemahannya
d.  Katalog fakultas yang berbahasa Arab yang ditandatangani oleh dekan fakultas
e.  Kurikulum fakultas yang berbahasa Arab
f.   Membayar administrasi proses akreditasi sebesar Le. 500. (lima ratus pound Mesir)
 
Berkas yang telah disediakan seperti yang disebutkan di atas diserahkan ke kantor Bidang Akademik Universitas al-Azhar di kantor Rektorat Nasr City Cairo untuk fakultas non eksakta. Adapun fakultas eksakta, proses akreditasi dilakukan di kantor Majelis Tertinggi Urusan Perguruan Tinggi Mesir. Proses akreditasi bisa dilakukan sepanjang tahun.

Catatan:
1.Seluruh berkas yang disebutkan diatas telah dilegalisir oleh Deplu RI dan kedutaan Mesir di Indonesia
2.Untuk katalog dan kurikulum pada fakultas eksakta boleh berbahasa Inggris 
3.Proses akreditasi biasanya membutuhkan waktu 4-5 bulan, bagi calon mahasiswa atau yang diwakilkan diharapkan untuk aktif mengikuti perkembangan proses akreditasi yang dimaksud melalui kantor akademik

2.  Waktu dan Tempat Pendaftaran
Pendaftaran program S2 di universitas al-Azhar dilaksanakan sepanjang tahun yang bertempat di kantor urusan mahasiswa asing pada Islamic Research Academy al-Azhar di Nasr City. Sedang bagi lulusan S1 Al-Azhar, bisa mendaftar di fakultas masing-masing. Tes masuk baru dilaksanakan 4 kali dalam setahun, yaitu pada bulan Februari, Mei, Agustus, November dengan materi Al-Quran (lisan dan tulisan).

Untuk mahasiswa wafidinArab lulusan al-Azhar diwajibkan menghafal 8 juz pertama, wafidin non Arab lulusan Al-Azhar diwajibkan mengahafal 4 juz pertama. Sedangkan wafidinnon Arab yang bukan lulusan Al-Azhar diwajibkan menghafal 4 juz terakhir (27, 28, 29, 30).

Hasil tes diumumkan 1 bulan setelah dilakukan tes yang bertempat di bagian program pasca sarjana tiap fakultas. Setelah dinyatakan lulus, proses selanjutnya adalah menghadiri kuliah yang dimulai pada awal bulan Desember.
Baca selengkapnya

Cinta Dunia dan Faktor Kemunduran Umat


عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا ». فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ « بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِى قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ ». فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهَنُ قَالَ « حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ ».

Dari Tsauban, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Hampir tiba masanya kalian diperebutkan seperti sekumpulan pemangsa yang memperebutkan makanannya.” Lalu seseorang bertanya: ”Apakah karena sedikitnya jumlah kita?”Rasul menjawab ”Bahkan kalian banyak, namun kalian seperti buih yang mengapung. Dan Allah telah mencabut rasa gentar dari dada musuh kalian terhadap kalian. Dan Allah telah menanamkan dalam hati kalian penyakit Al-Wahan.” Seseorang bertanya: ”Ya Rasulullah, apakah al-Wahan itu?” Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: ”Cinta dunia dan takut akan kematian.” (HR Abu Dawud 3745)

Secara garis besar. ada dua hal yang dapat kita petik dari hadis di atas yang diriwayatkan oleh sahabat Tsauban ra., yaitu faktor kemunduran dan kemajuan Umat. Berikut faktor-faktornya;

Faktor-faktor kemunduran Umat:

1.       Jauhnya keluarga muslim dari sosialisasi keluarga dengan karakter keislaman.
2.       Adanya contoh dan peranan yang tidak baik dari generasi terdahulu kepada generasi penerus. Lingkungan terkecilnya adalah keluarga. Dimana orangtua jauh dari peran dan percontohan yang layak kepada anak-anaknya.
3.       Berkurangnya dakwah sosial di tengah masyarakat seperti perhatian kepada dhuafa, orang-orang miskin, anak-anak putus sekolah dan lainnya.
4.       Perang pemikiran dan candu berupa konten-konten pronografi dan pengedaran narkoba yang dapat melemahkan generasi muda muslim dan bangsa.
5.       Perang media berupa penyebaran dan penggiringan opini public yang bersifat menyerang umat Islam.
6.       Ketidak tahuan dan menjamurnya aliran sesat dalam beragama.
7.       Lemahnya penegakkan hukum dan nilai-nilai luhur keislaman.


Faktor-faktor Kemajuan Umat:

1.       Aqidah : keimanan adalah factor utama kekuatan umat ini. Iman yang kuat akan membawa umat pada persatuan dan memperkuat tali-tali agama Allah, sehingga umat tak mudah goyah dan lekang oleh godaan sesaat.

2.       Keasadarn nurani dan tanggung jawab di hadapan Allah: sebagai muslim dan beriman kepada Allah, kita menyadari benar bahwa setiap tindak-tanduk langkah hidup kita di tiap detik yang berlalu akan dipertanggung jawabkan di hadapannya. Karenanya, kesadaran itu akan menjaga kita dari setiap perbuatan yang tiada manfaat, dan terus memotivasi kita untuk berbuat ibadah. Baik itu ibadah ritual, maupun sosial.

3.       Selalu mengedepankan risalah Islam: apa pun yang akan dilakukan seorang muslim, pandangannya jauh tertuju pada pesan dan nilai-nilai yang di bawa oleh agama Islam. Karena sejatinya, nilai luhur yang ada pada agama Islam tidak bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Dan Islam selalu relevan menjadi rujukan setiap orang di setiap tempat dan de setiap waktu.

4.       Ilmu Pengetahuan: sebagai mana dikatakan dalam sebuah riwayat, siapa yang ingin mendapatkan dunia maka harus berilmu. Siapa yang ingin akhirat maka harus berilmu. Ilmu pengetahuan adalah lambing kemajuan suatu bangsa. Siapa yang dapat menguasainya, maka jayalah bangsa tersebut. Tiada yang bertentangan antara ilmu yang terlihat duniawi dengan ilmu yang terlihat ukhrawi. Karena sejatinya ilmu itu akan mengantarkan seseorang pada iman dan tauhid, serta kayakinan bahwa Allah adalah pemilik segalanya.

5.       Mendasari ilmu pengetahuan pada iman dan takwa. Sehingga semakin berkembang dan majunya ilmu, maka semakin meningkatnya iman dan ketakwaan umat.

6.       Berlaku adil: adil adalah lambang kebijaksanaan seseorang. Adil juga merupakan tujuan dari maqashid syariah islamiyah. Itu sebabnya, Allah menyanjung orang-orang yang berlaku adil dengan mendekati pada ketakwaan.

7.       Tidak memonopoli ilmu dan terbatas pada lapisan masyarakat tertentu.

8.       Menghormati para ulama sebagaimana seharusnya.

9.       Kesadaran umat terhadap pesan dan risalah luhur yang di bawa oleh al-Quran dan al-Hadits.

10.   Menolong orang-orang yang lemah dan tertindas serta membantu mereka berhijrah baik dari “negeri kafir” maupun berhijrah dari kondisi hidup yang jauh dari nilai-nilai keislaman.


11.   Berdakwah di jalan Allah tanpa mengharapkan imbalan dan tujuan duniawi lainnya.


Editor: Rizky Ahmad
Baca selengkapnya