Membersihkan Hati dari Kebiasaan Menyakiti Sesama

Membersihkan Hati dari Kebiasaan Menyakiti Sesama

Ada sebuah keputusan besar yang perlu kita ambil: membersihkan hati dari segala perilaku buruk (Takhliyah), agar hati kita siap diisi dengan kebaikan (Tahliyah) yang murni. Inilah dua persiapan utama kita dalam menyambut Ramadan.

Penyakit hati pertama yang harus kita buang jauh-jauh—supaya tidak lagi muncul dalam ucapan dan tindakan kita—adalah kezaliman. Rasulullah ï·º mengingatkan bahwa perilaku zalim ini akan menjadi kegelapan yang pekat di hari kiamat nanti.

Bagaimana Kezaliman Merusak Kita?

Kezaliman seringkali bermula dari hal kecil yang tanpa sadar kita anggap remeh:

Menyakiti Diri Sendiri: Seperti terus-menerus membiarkan diri dalam maksiat atau menunda taubat.

Menyakiti Orang Lain: Ini bisa berupa tindakan mencela, menyebarkan fitnah, mengambil hak orang lain, hingga menyakiti perasaan sesama dengan lisan maupun perbuatan.

Ketidakadilan yang Meluas: Jika kita sudah terbiasa menyakiti orang di sekitar kita, kita akan menjadi pribadi yang tega merusak urusan-urusan besar yang menyangkut kepentingan orang banyak.

Dalam sebuah Hadis Qudsi, Allah dengan tegas berfirman bahwa Dia mengharamkan diri-Nya berbuat zalim, maka kita pun dilarang keras untuk saling menyakiti.

Lingkaran Setan "Saling Menyakiti"

Bahayanya, jika seseorang disakiti, seringkali ia bukannya bersabar, tapi justru mencari celah untuk balas dendam. Ia ingin membalas dengan rasa sakit yang lebih hebat. Akibatnya, rasa kasih sayang hilang, hati menjadi keras, dan kita jadi abai terhadap perintah Allah. Inilah kondisi yang banyak kita temui sekarang: kita terjebak dalam aksi saling menyakiti, sebuah kondisi yang mengundang murka Allah.

Hati-hati dengan "Jalur Langit" Orang yang Tersakiti

Nabi ï·º mewanti-wanti: "Takutlah kalian pada doa orang yang dizalimi (disakiti), karena tidak ada penghalang antara dia dengan Allah." Ingat, Allah mendengar rintihan siapa pun yang disakiti, bahkan jika orang itu bukan orang yang taat sekalipun. Masalahnya bukan lagi siapa yang lebih benar, tapi fakta bahwa ada hati yang terluka karena perbuatan kita. Menyakiti sesama adalah penghalang utama doa kita dikabulkan.

Jalan Pulang: Cara Berhenti Menyakiti

Keluar dari kebiasaan buruk ini mungkin terasa berat, namun Allah akan memudahkan siapa pun yang tulus ingin berubah.

Jika kita selama ini "menyakiti" diri sendiri:

Mulailah dengan rendah hati, buang sifat sombong dan merasa paling hebat (egoistis). Belajarlah untuk lebih peduli, lembut, dan suka berbagi. Lawan nafsu ingin menang sendiri dengan banyak berzikir, puasa, dan mendekat pada teladan Rasulullah ï·º.

Jika kita telah menyakiti atau merugikan orang lain:

Jangan hanya minta ampun kepada Allah. Kamu harus berani datang kepada mereka, mengembalikan apa yang bukan hakmu, dan meminta maaf dengan tulus atas luka yang kamu buat.

Langkah Penutup:

Jadilah pengawas bagi dirimu sendiri. Sebelum tidur, tanyakan: "Adakah lisan atau tanganku yang melukai orang lain hari ini?" Selesaikan urusanmu dengan sesama sebelum Ramadan tiba, agar Allah berkenan menerima amalmu dengan tangan terbuka.


Post a Comment

0 Comments